Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Meski Ditentang Keluarga, Korban 9/11 Tetap Jadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, Elizabeth Torres kehilangan delapan anggota keluarganya dalam serangan 11 September 2001 lalu. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi seorang mualaf.

"Saya tak pernah menyalahkan agama apapun atas apa yang terjadi pada keluarga saya," ujar Torres. "Islam tidak menyuruh kita untuk menghancurkan apapun. Orang-orang yang melakukan ini dimanipulasi, dicuci otaknya," katanya lagi.

Elizabeth mengaku telah lama menjalani pencarian spiritual. Ia berpaling ke Islam setelah menikah dengan seorang warga Mesir. Ia mengganti namanya menjadi Safia El-Kasaby.

El-Kasaby mengaku mendapat tentangan dari keluarganya. Putrinya, Sylvia, yang bersuamikan seorang tentara yang gugur di medan perang menolak berhubungan kembali dengannya. 

Putrinya yang lain, harus menghadapi komentar miring dari teman-temannya. "Mereka bilang, 'Oh, ibumu teroris sekarang.' Dan saya bilang, 'Tidak, itu berbeda sama sekali dengan agamanya," ujar Natalia Torres.

Tidak mudah bagi Elizabeth Torres untuk beralih agama pasca serangan 11 September. Kejadian 11 September tak pelak lagi membuat banyak kalangan memandang umat Islam dengan penuh curiga. 


Bahkan survei terbaru Gallup menyebutkan setidaknya 48 persen warga Muslim Amerika pernah mengalami diskriminasi atau setidaknya perhatian negatif dari warga sekitar. Karena diskriminasi seperti itulah, Torres yang sempat mengenakan jilbab mengambil keputusan untuk menanggalkan penutup rambutnya. 

"Yang penting adalah hubungan saya dengan Tuhan. Bila hati saya baik-baik saja dengan Dia, tidak penting apa yang orang lain katakan," ujarnya.

Pada peringatan 10 tahun 11 September, mualaf ini kembali menyayangkan mengapa agama pilihannya ini dibajak oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam.

Scanner 2450 Lembar = 250 Juta!!


Jakarta - Wawancara dengan Pihak Dinas PU yang dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahok. Dalam petikan video di samping pihak Dinas PU mengatakan bahwa biaya Scanning 2450 lembar kertas membutuhkan budget 250 Juta Rupiah.

Ketika dikonfrontasi, malahan Dinas PU mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai Scanner.
Wakil Gubernur DKI Jakarta kemudian menanyakan harga Scanner per-unit dan dijawab sekenanya, 170 Juta Rupiah!!!

Pantaskah sebuah unit scanner dihargai dengan harga 170 Juta Rupiah?

Bagaimana sebenarnya hasil pajak kita dipakai oleh pejabat-pejabat negara kita ini? Disatu pihak masih banyak anak-anak putus sekolah,pengemis disana-sini.Di lain pihak terjadi penggelembungan dana secara gila-gilaan yang dilakukan oleh pejabat negara yang berwenang.

Ini baru yang kelihatan dan terekam,belum lagi yang lain-lainnya.
Apakah pemerintahan SBY-Budiono akan menindak tegas para pelaku di gambar ini? Mari kita tunggu aksi mereka.






Sumber : Facebook