Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Inilah Pidato KH Hasyim Muzadi Menjawab Tuduhan Intoleransi Agama di Indonesia


Pidato mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH HAsyim Muzadi beredar luas melalui pesan berantai BlackBerry Messenger dan media sosial seperti Facebook dan blog.
Pidato yang heboh itu berisi pandangan mantan pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu mengenai sejumlah isu kontroversial seperti Ahmadiyah, toleransi antarumat beragama, Gereja Yasmin, Lady Gaga, Irshad Manji, dan perkawinan sejenis.
"Pidato itu beredar di seluruh jagad raya. Saya dapat (pesan berantai) dari mana-mana," kata Ali Mukhtar Ngabalin, Ketua Umum Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Senin (4/6/2012), kepada TRIBUNnews.com.
TRIBUNnews.com, yang menerima beberapa pesan berantai itu pagi ini, coba menelusuri di Google dengan kata kunci "pidato Hasyim Muzadi".
Beberapa halaman akun Facebook dan blog memuat pidato Hasyim tersebut, yang isinya persis sama dengan pesan berantai di BBM.
Hasyim Muzadi sendiri telah mengonfirmasikan isi pidato ini.

Berikut selengkapnya isi pesan BBM mengenai pidato Hasyim Muzadi:
KH. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) & Mantan Ketum PBNU  ttg tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva :
"Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti krn laporan dr dlm negeri Indonesia. Slm berkeliling dunia, saya blm menemukan negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.
Klau yg dipakai ukuran adl masalah AHMADIYAH, memang krn Ahmadiyah menyimpang dr pokok ajaran Islam, namun sll menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tdk dipersoalkan oleh umat Islam.
Kalau yg jadi ukuran adl GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tdk ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia utk kepentingan lain drpd masalahnya selesai.
Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adl lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tp di Kupang (Batuplat) pendirian masjid jg sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu mlkkan mediasi.
Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yg ingin tata nilainya dirusak, kecuali mrk yg ingn menjual bangsanya sendiri utk kebanggaan Intelektualisme Kosong ?
Kalau ukurannya HAM, lalu di iPapua knp TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tdk ada yg bicara HAM ?Indonesia lbh baik toleransinya dr Swiss yg sampai skrg tdk memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dr Perancis yg masih mempersoalkan Jilbab, lbh baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tdk menghormati agama, krn disana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan sejenis ?!
Akhir'a kmbl kpd bngsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yg hrs sadar dan tegas, membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yg sekedar Weternisme".(Tribunnews)








Prof Bismar Siregar,"Pendekar Hukum' Telah Berpulang ke Rahmatullah


Innalillahi wa inna illaihi rajiun. Mantan Hakim Agung, Bismar Siregar, tutup usia di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, Kamis (19/4) sekitar pukul 12.25 WIB atau ba'da dzuhur.

"Ayah benar meninggal hari ini sekitar pukul 12.25 setelah koma selama empat hari," ungkap putra laki-laki pertama Bismar, Kemal Syah Siregar.
Selama empat hari itu, kata Kemal, almarhum ayahandanya dideteksi tim dokter mengalami pendarahan di kepala. Setelah mendapat izin dari pihak keluarga, tim dokter kemudian melakukan operasi untuk mengeluarkan cairan.
Namun, takdir berkata lain. Mantan Hakim Agung periode 1984-2000 ini tutup usia di usia 84 tahun.

Jenazah Bismar rencananya akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Jumat (20/4) besok. "Sebelumnya disolatkan terlebih dahulu di Masjid al Azhar," tuturnya.

Prof Bismar Siregar dalam Kenangan

Untuk mengenal masa Kecil,dan latar belakang pendidikannya baca tulisan sebelumnya 

Kisah Mantan Hakim Agung Bismar Siregar ,Kemiskinan bukan Penghalang untuk menuntut Ilmu 


Perjalanan Karir 

Setelah menyandang gelar sarjana hukum UI, Bismar memulai karir sebagai jaksa di Kantor Kejaksaan Negeri Palembang (1957). Setelah bertugas dua tahun di Palembang, Bismar pindah ke Kejaksaan Negeri Ujung Pandang yang dipimpin oleh AA Baramuli yang kemudian menjadi pengusaha dan politisi. Baru setahun bertugas di Ujung Pandang, Bismar kemudian dipindahkan lagi ke Kejaksaan Negeri Ambon (1960). 


Dua tahun kemudian (1962) Bismar berubah haluan, meniti karir sebagai hakim, pertama kali bertugas di Pengadilan Negeri Pangkal Pinang (1962), kemudian dipindahkan ke PN Pontianak (1962-1968). Bismar mulai merenung bahwa di dalam meraih jabatan tidak boleh ngoyo. 


Kisahnya begini: sebenarnya, Bismar dirancang menjadi Ketua PN Pangkal Pinang. Tetapi ketua pengadilan yang akan digantikannya belum mau pensiun, meminta dinas aktifnya diperpanjang setahun lagi. Maka, mau tidak mau Bismar menerima posisi sebagai hakim biasa. Baru saja bertugas di Pangkal Pinang, Ketua PN Pontianak meninggal dunia. Posisi yang ditinggalkannya diisi oleh Bismar. “Saya tidak tahu, mungkin ini kehendak Tuhan,” kata Bismar 


Waktu itu usia Bismar baru 34 tahun, sebuah jabatan relatif tinggi bagi seorang hakim yang berusia semuda itu. Menilik pengalaman-nya, Bismar beranggapan, para hakim senior jangan melecehkan mereka yang muda  dengan dalih masih ingusan. Kalau mampu menjalankan tugasnya dengan baik, berikan mereka kesempatan.  

Menjadi hakim agung di Mahka-mah Agung (1984-1995) merupakan puncak karir Bismar sebagai pende-kar hukum. Kemudian Bismar menikmati hari-hari pensiunnya, sejak 1 Desember 1995. 




Bertutur kata lembut, tetapi vonisnya bisa menggelegar

Tidak seperti kebanyakan pria Batak, Bismar bertutur kata lembut, tetapi vonisnya bisa menggelegar. Ketika memangku Ketua Pengadilan Tinggi Sumatra Utara,
Bismar pernah suatu kali, menambah vonis pengadilan tingkat pertama sampai 10 kali lipat. Ini dilakukannya pada perkara Cut Mariana dan Bachtiar Tahir. Kedua terdakwa dijatuhi hukuman 10 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Medan karena tuduhan memperdagangkan 161 kilogram ganja kering. Namun Pengadilan Tinggi menambah hukuman mereka, masing-masing 15 dan 10 tahun penjara.

 Karena itu, dia sangat prihatin dengan keputusan hakim yang menjatuhkan hukuman hanya 4 tahun penjara kepada ratu ekstasi Zarima. Padahal, Zarima tertangkap membawa 29 ribu pil setan. Apakah hakim, itu tidak mengetahui dan merasakan akibat dari perbuatan Zarima. Jika Bismar yang jadi hakimnya, Zarima layak dihukum mati. Mestinya bikin shock therapy buat pengedar narkoba. 

.
Bismar mengubah hukuman bagi seorang kepala sekolah yang mencabuli muridnya sendiri, dari tujuh bulan menjadi tiga tahun. Perkara ini diputuskan oleh PN Tanjungbalai, tetapi diubah oleh Pengadilan Tinggi Sumut. 

Bismar, sarjana hukum UI kelahiran Sipirok, Sumut, 15 September 1928, itu bersikap keras sejak awal. Ketika mengadili seorang tokoh BTI/PKI, Mei 1965, Bismar berani melawan tekanan PKI. Sebab Bismar beranggapan, hakim itu wakil Tuhan di dunia.

Bismar pernah menjatuhkan hukuman yang menggemparkan, ramai diperdebatkan publik. Saat itu (1976), ketika menjabat Ketua PN Jakarta Timur, Bismar menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa Albert Togas. Dari situlah mencuat polemik tentang hukuman mati. Kasusnya, Albert Togas, karyawan PT Bogasari yang di PHK, membunuh Nurdin Kotto, staf ahli perusahaan tersebut.


Padahal selama menganggur, Albert ditolong oleh Nurdin. Namun Albert membunuh Nurdin secara keji. Mayatnya dipotong-potong, dagingnya dicincang, dicuci bersih, lantas dimasukkan ke dalam plastik. Setelah  itu, potongan mayatnya dibuang ke sebuah kali di Tanjung Priok. Albert membalas air susu dengan air tuba, kebaikan dibalas dengan kejahatan. “Kekejaman itulah yang saya tidak ragu menjatuhkan hukuman mati,” kata Bismar.


Namun Bismar, atas putusannya, menerima serangan bertubi-tubi dari orang-orang yang menentang hukuman mati. Dia dicap tidak Pancasilais kare-na dituding menjatuhkan hukuman yang tidak patut dilakukan oleh seo-rang hakim, merampas nyawa orang. Sedangkan yang berhak melakukan itu hanya Tuhan. Bismar punya alasan sendiri, boleh saja berbeda pendapat. Tetapi, sebagai seorang muslim, “saya katakan, hukuman mati itu sah-sah saja. Sebab, ada ayat membenarkan hukuman mati.”


Ada Juga putusan lainnya menyangkut kasus pemerkosaan yang menimpa keluarga Acan di Bekasi. Bismar mengusulkan agar hakim yang mengadili kasus itu menjatuhkan hukuman mati kepada pata pelakunya yang lebih keji dari binatang. Menurut Bismar ketentuan hukum positif yang maksimal menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara bagi terdakwa kasus pemerkosaan terlalu ringan.


Kata Bismar: “Kalau dalihnya tidak Pancasilais, Pancasila yang mana?” Pancasila sejatinya sesuai dengan iman Islam. Berbeda dengan umat Kristiani yang Kitab Perjanjian Baru-nya tidak membolehkan hukuman mati. Tapi dalam Kitab Perjanjian Lama hukuman mati dibolehkan. Jadi, sebetulnya tidak ada pertentangan di antara keduanya. 

Bagi Bismar keadilan hanya bisa ditemukan dalam hati nurani hakim. Kalau seorang hakim memiliki nurani keadilan, maka dia akan mampu melahirkan keputusan yang adil. Bismar memberi contoh; ada seorang ayah, didakwa mencuri, tetapi dia melakukan itu untuk memberi makan anak-anaknya yang menangis kelaparan. “Apakah dia bersalah? Dia memang bersalah karena telah mencuri.” Tetapi kalau dilihat dari motifnya: “demi menghidupi anak-anaknya”, yang haram saja susah diperoleh apalagi yang halal. Kata Bismar, si ayah tersebut bisa dibebaskan dari hukuman. Tetapi kebanyakan hakim tidak melakukannya. Mereka memandang secara apriori, “mencuri adalah perbuatan melawan hukum, tidak peduli apapun alasannya.”


Menurut Bismar masih banyak putusan hakim yang belum melegakan masyarakat. Persoalannya, mereka tidak konsekuen dengan konsep keadilan. Karena itu, Bismar mengingatkan lagi, hukum hanyalah sarana. “Masa sarana kita pakai untuk menegakkan keadilan. Itu tidak bisa,” kata Bismar. 


Pada tahun 1974, Bismar juga membuat putusan yang menghebohkan tentang perkawinan yang tidak berdasarkan hukum perkawinan. Kasusnya menimpa pasangan yang beragama Katolik. Tapi, dilaksanakan secara agama (tidak melalui catatan sipil). Bagi Bismar, perkawinan itu sah. Mengapa? Sebab dia melihat sosok yang meresmikan perkawinan itu membawa nama Tuhan. Seorang pastur. Masa pastur mempermainkan nama Tuhan.


Masalah ini sempat membuat ribut kalangan praktisi hukum. Soalnya dia dinilai telah merusak kepastian hukum. Karena sudah ada ketentuan bahwa setiap perkawinan yang tidak dilaksanakan sesuai dengan undang-undang tidak sah. Namun Bismar merasa bahagia karena sebagai muslim bisa memberikan rasa keadilan kepada orang yang tidak seiman dengannya.

Ubah Manusianya 

Sebenarnya, menurut Bismar, mate-ri dan sistem hukum yang berlaku sekarang tidak perlu diubah. Sudah bagus. Yang perlu diubah adalah manusianya. Dalam peradilan di Indonesia telah dengan tegas disebut-kan bahwa dasar seorang hakim dalam mengambil keputusan: “Demi Keadilan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Indonesia sudah mempunyai irah-irah (baca: sumpah) yang sesuai dengan sila pertama Pancasila. Baginya, irah-irah harus dihayati dan dipahami. Bukan Cuma di bibir (lips service), kenyataan tidak.
Bismar merujuk pada firman Tuhan (dalam Al Quran): “Jangan perjualbelikan ayat-Ku dengan harga yang murah.” Dan, irah-irah atas nama Tuhan sekarang sudah diperjualbelikan. Bismar menangis kalau ada penyimpangan keadilan dengan mengatasnamakan Tuhan.


Bismar prihatin dengan merosotnya wibawa penegak hukum di mata masyarakat saat ini. Kalau mencari bukti-buktinya mudah saja. Contoh-nya, banyak kasus pelanggaran hu-kum yang masuk dark number. Tapi  dia merasa risih dengan akronim-akronim yang berkembang di masyara-kat berkaitan dengan jabatan penegak hukum. Misalnya, “Polisi” (baca: main amplop), “Jaksa” (Tukang Injak dan Tukang Paksa), “Hakim” (Hak si Kim, baca : kepentingan orang Cina, atau Hubungi Aku Kalau Ingin Menang). Mestinya ungkapan-ungkapan itu membuat aparat penegak hukum mawas diri. Bismar mengajak para penegak hukum, kalau itu benar, beristighfarlah, jangan diteruskan. 
Ibarat kaca, mantan hakim agung Bismar Siregar SH, menjadi cermin kebeningan hati nurani bagi para hakim. Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Sumatra Utara (1984), ini selalu mengandalkan hati nurani setiap kali mengambil keputusan. Sebab baginya, hati nurani tidak bisa diajak berbohong. Dia merasa sangat bersyukur dan bahagia sekali tidak masuk lingkaran hakim yang bisa disuap atau dibeli. Karena itu Bismar Siregar, satu pendekar hukum langka yang berani melawan arus demi tegaknya keadilan. Baginya, undang-undang, hukum dan kepastian hukum, hanya sarana untuk mencapai keadilan.

Tatkala menjadi hakim aktif, Bismar Siregar, seringkali melakukan terobosan hukum dalam menegakkan keadilan. Sebagai seorang hakim, dia tidak mau diintervensi oleh
siapa pun termasuk atasannya (Ketua Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung). Dia juga tidak mau pasrah bilamana belum ada undang-undang yang mengatur sesuatu perkara yang sedang diadili. Demi tegaknya keadilan, baginya, hakim adalah undang-undang.

Untuk itu, Bismar selalu bertanya kepada hati nuraninya sendiri. Dia tidak ingin membohongi hati nuraninya ketika memutuskan suatu perkara. Setiap kali membuka berkas perkara atau memimpin sidang pengadilan, nurani keadilan selalu terbayang dibenaknya. Karena itu, kebanyakan teman menganggapnya sebagai hakim yang aneh, penuh kontroversi. Padahal duduk soalnya sederhana saja, Bismar tidak mau disuap, tidak bisa dibeli.

Benar apa yang ditulis Prof Satjipto Rahardjo, Guru Besar Fakultas Hukum Undip, “Bismar tidak kontroversial. Ia lurus-lurus saja. Setiap memutus perkara ia selalu bertanya kepada hati nuraninya.”


Bismar selalu berdialog dengan hati nuraninya: “Salahkah orang ini? Jahatkah dia? Bagaimana hukumannya, berat atau ringan?” Sesudah hati nuraninya memutuskan, maka ia mencari pasal-pasal hukum sebagai dasarnya.


Bismar gemar menulis. Apa saja yang dirasakan dan dipikirkannya, tak pernah lupa ia catat. Banyak tulisannya yang dipublikasikan, baik dalam bentuk makalah ilmiah, ceramah, artikel populer, maupun buku. Tetapi masih banyak lagi buah pikiran dan gagasannya yang belum sempat dipublikasi.
Naskahnya menumpuk, sangat sayang untuk dibuang.

Naskah-naskah yang tercecer ini dirangkai kembali di dalam bukunya: Dari Bismar untuk Bismar. Buku itu merangkum artikel-artikel pendek tentang berbagai topik, merupakan refleksi dirinya atas kejadian atau persoalan yang muncul atau sedang menjadi pembicaraan publik saat ia menuliskannya. Artikel-artikel itu terangkum secara kronologis sesuai tanggal, bulan atau tahun penulisannya.

pandangan para Tokoh terhadap Prof Bismar Siregar

Menkum HAM, Amir Syamsuddin, mengenal sosok Bismar Siregar ketika dirinya masih menjadi pengacara kecil. Kala itu Bismar sudah menduduki kursi ketua pengadilan. Sosok Bismar meninggalkan jejak dalam ingatan sang Menkum HAM.

"Mengenal beliau sejak saya menjadi pengacara kecil. Ketika itu dia ketua pengadilan,"

Di mata Amir, Bismar adalah sosok yang bisa mengawinkan pendekatan rohani dan hukum dengan begitu baik dalam mengambil keputusan di meja hijau. Tidak heran, figur Bismar dikenal banyak kalangan sebagai orang besar di bidang hukum.

"Semoga arwah dan amalnya diterima Allah SWT dan keluarganya diberikan ketabahan," harap Amir.

Sedangkan di mata mantan komisioner KPK, M Jasin, Bismar juga dikenal sebagai sosok yang berintegritas. Bismar telah memberikan sumbangsih bagi hukum di Indonesia.

"Beliau ini sebagai hakim agung yang berintegritas di bidang hukum, ada temuan beliau di ilmu hukum positif buat bangsa dan negara ini. Semoga arwah beliau diterima disisinya," ujar Jasin yang juga melayat Bismar.

Mantan Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin A Tumpa menilai, Bismar Siregar adalah sosok hakim agung yang progresif. Ia banyak menyumbang ide-ide untuk pembaruan peradilan.

. Ia juga dinilai banyak memberi warna pada pergerakan hukum di republic ini.

Pengacara senior OC Kaligis punya kenangan tersendiri dengan sosok Bismar Siregar, kala dia masih menjadi seorang pengacara muda. Bagi Kaligis, Bismad adalah sosok hakim tegas dan profesional.

"Pertama sebagai cendekiawan, kedua sebagai hakim dia benar-benar profesional, saya ingat waktu dia jadi hakim di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur, nggak pernah mesti ragu-ragu ambil keputusan, karena dia cendekiawan dan pertimbangan hukumnya bagus. Makanya lihat aja pasti banyak yang datang karena dia orang yang baik dan sebagai hakim juga namanya bersih," kata kaligis saat melayat jenazah Bismar di rumah duka, Jl Cilandak I No 25 A, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (19/4/2012).

Kaligis mengganggap Bismar sebagai sosok sahabat. Dia yakin banyak orang menganggap Bismar sahabat. Kaligis pun mencontohkan sebuah kasus yang pernah diputus Bismar.

"Saya kira dia memutuskan ada pertimbangan hukum, jadi ada legal reason. Pernah dulu pasal 378 dia bilang barang dari wanita itu bisa disita. Tapi tujuannya itu kan bagus bahwa kalau yang begituan itu dikenakan tindakan pidana, kalau zinah atau segala macam. Terus saat ditanya bagaimana caranya, sita aja. Lalu saya komentari kalau disita itu mau disimpan dimana? Nah dia bilang di rumah penyimpanan barang bukti, dan saat kembali ditanyakan siapa yang pegang itu? Tapi ya saya tahu tujuannya itu. Almarhum mau mengatakan kalau itu tindakan pidana," kenangnya.

Menurut dia, Bismar menutup usia dengan track record yang sangat baik. "Beliau di Mahkamah Agung karirnya selesai dengan baik dan nggak ada masalah," pungkasnya.




اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]

Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” 



Kisah Mantan Hakim Agung Bismar Siregar ,Kemiskinan bukan Penghalang untuk menuntut Ilmu

Bismar mensyukuri perjalanan hidup, tidak tamat SD dan SMP, tetapi menyandang gelar yang cukup bergengsi di bidang hukum. Dia besar di kalangan keluarga miskin, tetapi bisa menduduki posisi cukup tinggi di bidang hukum. Dia anak desa dan lama hidup di desa, tetapi bisa melanglang buana. Bismar bahagia sebagai muslim dan orang Batak, karena menyandang marga Siregar. Bismar bahagia karena pernah menjadi hakim.

Bismar merekam memori kehidupan di masa kecil dan
mudanya di kampung di dalam sebuah buku, diberinya judul: Aku Anak Petani. Bahkan, Bismar tak malu menyebut dirinya lahir dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Perjalanan hidup Bismar Siregar kecil yang lahir di Desa Baringin, Sipirok, Tapanuli Selatan, 15 September 1928, terbelenggu oleh kemiskinan. Ayahnya, Aminuddin Raja Baringin Siregar seorang guru sekolah rakyat (SR) desa.




Sedangkan ibunya, Siti Fatimah, seorang ibu rumah tangga biasa yang harus membesarkan 13 orang anak. Karena itu, Bismar menghabiskan masa mudanya di Mandailing, Sumatra Utara, membantu ayahnya yang merangkap jadi petani. Mandailing adalah satu dari sedikit daerah di Indonesia yang tidak pernah diduduki oleh Belanda. Kenyataan ini, sikap anti penjajah menempa jiwa dan semangatnya menjadi seorang republiken.


Bahkan, Bismar tak malu menyebut dirinya lahir dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ayahnya mewariskan catatan bahwa keluarganya pernah makan nasi hanya sekali sehari ditambah ubi rebus malam hari. Sewaktu membaca catatan tersebut, Bismar merenung sejenak, dan menemukan jatidirinya. Tuhan seakan berkata kepadanya: “Tidak percuma engkau bisa membaca catatan ayahmu supaya engkau lebih merasakan bahwa sejak usia enam bulan engkau sudah bernasib sepedih itu. Adakah engkau mengenal sekitarmu? Sungguh banyak orang sekarang ini yang lebih parah daripada hidupmu dahulu. Kalau dulu masih makan nasi sekali, ubi sekali, sekarang, nasi tidak bisa dimakan saban hari. Adakah engkau tidak merasakan yang sedemikin itu?”


Semiskin apapun perjalanan hidupnya dahulu, sampai tidak bisa menamatkan sekolah rakyat (HIS), Bismar tetap menyukurinya. Dia tidak mampu masuk sekolah lanjutan pertama, meskipun teman-temannya sudah masuk SMP, lantaran keluarganya sangat miskin. Maka dia bertahan menjadi anak desa yang tidak mengenyam bangku sekolah lanjutan. Bismar bukan sembarang anak desa. Tetapi anak desa yang membuka hutan untuk dijadikan sawah. Bersama orangtuanya, Bismar tidur di tengah persawahan, mendengarkan nyanyian jangkrik. Dia merasakan nikmat sekali. Sampai sekarang pun Bismar masih merasakannya, dan menangis di saat mengenangnya.


Keluarga Bismar memetik hikmahnya. Berjuang keras di jalan kehidupan seperti itu namun tidak sesulit sekarang untuk mencari makan. Bismar merekam memori kehidupan di masa kecil dan mudanya di kampung di dalam sebuah buku, diberinya judul: Aku Anak Petani.


Kenapa Bismar terdorong menulisnya dalam bentuk buku? Karena dia melihat perlakuan dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap petani. Harga gabah dipatok sedemikian rendah, sementara harga pupuk dipatok sedemikian tinggi. Petani ribut dan demo, masa bodoh. Semua mengatakan, “itu bukan urusanku.”


Tulis Bismar dalam bukunya yang juga diulangi dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia: “Mungkin saja mereka merasa bukan anak petani. Mereka telah berbohong terhadap diri mereka sendiri. Kalau bukan ayahnya yang petani, kakeknya yang petani.” Namun Bismar, bukan hanya ayah atau kakeknya yang petani, dia sendiri petani. Dia merasakan dan menikmati menjadi seorang petani. Ketika berada di tengah sawah, kehujanan dan kepanasan, dia merasa senang dan bahagia menunggu sampai panen selesai. Bismar merasakan nikmatnya melihat padi yang tumbuh, kemudian mulai boltok (istilah di Tapanuli) berbuah. Hidup di kampung, memiliki hasil panen cukup untuk makan setahun sudah bersyukur. Itu waktu dulu. Tapi sekarang tidak berlaku lagi. Karena lahan-lahan sudah dibagi kepada para ahli waris. Sawah terbagi-bagi semakin sempit.


Bismar mempertanyakan: “Salahkah kalau anak-anak desa harus meninggalkan kampung mereka untuk mencari nafkah di kota?” Pertanyaan ini dijawabnya dengan kenyataan, misalnya, warga Siborong-borong yang meninggalkan desa mereka karena memang tidak bisa lagi hidup di situ. Harga hasil pertanian tidak dapat lagi diandalkan. Bismar masih bertanya, “kenapa pemerintah tidak memikirkan nasib petani?”. Kalau petani diperhatikan, mereka tidak datang ke kota, menjadi supir bus, pedagang asongan atau pedagang kali lima yang sering menimbulkan masalah. Mereka dikejar-kejar aparat Trantib, seterusnya untuk diperas dan diperas lagi.


“Karena itu makmurkan para petani,” kata Bismar. Kapankah Indonesia memberikan kedudukan terhormat kepada para petani, dari mana kebanyakan petinggi negara berasal? Kata Bismar, pengabaian dan kesalahan kepada para petani perlu diakhiri, supaya semua orang cinta pada pertanian. Dulu Bismar bangga membawakan makanan untuk ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Sekarang, katanya, mana lagi ada anak yang mau begitu. Secara tidak sadar tatanan yang diwariskan nenek moyang telah dirusak sendiri.


Karena itu, Bismar kembali mengetok pintu hati nurani mereka yang diberikan amanah jabatan oleh Yang Maha Kuasa. Ingatlah, amanah dan jabatan itu sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Setiap orang tidak bisa lepas dari pertanggungjawaban. Kepada SBY pun, sewaktu Pilpres, Bismar bilang, “engkau imam yang harus bertanggungjawab terhadap lingkunganmu.” SBY sekarang menjadi imam untuk bangsa ini.

Pendidikan
Perjalanan pendidikan Bismar tergolong unik. Tahun 1942, ketika Bismar akan menempuh ujian sekolah dasar di kelas tujuh HIS (Hollands Inlandsche School), Jepang masuk. Kekacauan yang timbul karena gejolak pergantian penjajah, membuat Bismar tidak menempuh ujian akhir, dan pendidikannya praktis terhenti. Bismar muda hidup di kampung selama delapan tahun tanpa duduk di bangku sekolah. Tahun 1950, dia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ironis. Bismar yang tidak tamat sekolah dasar, malah dibawa abangnya ke Magelang untuk melanjutkan sekolah di SMA Pejuang, sebuah sekolah lanjutan khusus bagi para pejuang kemerdekaan.


Bismar seperti memakan buah simalakama. Mau masuk SMA, ijazah SD pun tidak punya, mau duduk di bangku SMP usianya sudah kadaluwarsa. Berkat bujukan si abang, Bismar memberanikan diri untuk mendaftar ke SMA Pejuang. Caranya, dia mengubah tanggal kelahirannya dari 15 September 1928 menjadi 15 November 1930. Sampai sekarang yang tercantum di ijazahnya, tanggal kelahiran terakhir.


Setelah masuk SMA, Bismar menghadapi kendala lain. Dia sangat takut pada mata pelajaran Aljabar, sebab mata pelajaran itu tidak pernah dia pelajari sebelumnya. Bayangkan, dia harus bersaing dengan kawan-kawannya yang sudah biasa mendapat mata pelajaran Aljabar. Bismar benar-benar mengalami kesulitan. Beruntung, hasil ujian akhir Bismar untuk mata pelajaran tersebut adalah nilai 5. “Tapi tidak jadi masalah karena itulah kekurangan saya,” kenang Bismar.
Soal perbedaan versi tanggal kelahiranya pernah menjadi perdebatan media massa ibukota sewaktu Bismar menduduki posisi hakim agung. Ada yang memberita-kan, mestinya Bismar sudah pensiun. Namun Bismar tidak pernah gentar meskipun memiliki dua tanggal kelahiran yang berbe-da, apalagi alasannya cukup logis.


Bismar menamatkan SMA di Bandung tahun 1952. Kemudian melanjutkan studi di Fakultas Hukum UI Jakarta. Bismar meraih gelar sarjana hukum dalam tempo 4 tahun. “Ini sesuai dengan amanat orang tua saya,” kata Bismar. Memang sejak kanak-kanak, ayahnya selalu mengharapkan Bismar menjadi Meester in de Rechten (Mr). Dalam hidup Bismar Itulah saat-saat yang paling membanggakan dan membahagiakan.
Perihal memperdalam ilmu hukum, Bismar tidak berhenti sampai di situ. Kehausan menuntut ilmu dilanjutkannya dengan menempuh pendidikan di luar negeri, antara lain, di Unversity of Nevada (1973), University of Alabama, Tooscaloosa (1973), University of Texas di Dallas (1979), dan Rijks-Universiteit di Utrecht (1990).


Dalam usianya yang beranjak tua, Bismar merasa sedih karena saat ini tidak bisa berbuat, hanya bisa menyaksikan penderitaan yang dialami rakyat. Yang bisa dilakukannya, hanya menulis, menulis dan terus menulis. Namun, di dalam hidupnya sampai saat ini, Bismar tidak pernah berhenti membaca dan menulis. Bismar meneladani apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW: “Tinta seorang pandai lebih suci daripada darah seorang syuhada.’’ Menjalani hari-hari tuanya, Bismar mengekspresikan keahlian melukis di rumahnya yang luas di Cilandak, Jakarta. Juga dia tidak lupa berenang dan jogging (jalan) pagi setiap hari.

sumber : http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bismar-siregar/biografi/03.shtml

Abu Nasr Mansur, Ahli Matematika Penemu Hukum Sinus


Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring. Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.
Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M - 1036 M). Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century, mengungkapkan, bahwa Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia.
“Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,” ungkap Scheppler. Ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur terlahir di kawasan Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M.
Keluarganya “Banu Iraq” menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. “Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,” tutur O’Cornor dan Robertson.
Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu’l-Wafa (940 M - 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni Al-Biruni (973 M - 1048 M).
Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.
Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.
Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.
Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma’mun dan menjadi penasihat Abu’l Abbas Ma’mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.
Ali ibnu Ma’mun dan Abu’l Abbas Ma’mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu. Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan. Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.
Kontribusi Sang Ilmuwan
Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.
Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri. Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi Romawi bernama Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).
Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.
Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama al-Biruni. ” Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan. Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,” papar ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson
Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.
Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus.
Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi).
Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest.
“Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,” jelas O’Cornor dan Robertson.
Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:
a/sin A = b/sin B = c/sin C.
“Abu’l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,” ungkap O’Cornor dan Robertson.
O’Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M - 1000 M).
Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific Biography (New York 1970-1990). “Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,” katanya.
Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.
Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr
Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru.
Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr telah ‘melahirkan’ seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.
Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.
Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’.
Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.
Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu. hri/ des/she[republika]

Kisah Umat Bin Abdul Aziz r.a

Saat itu tengah malam di kota Madinah. Kebanyakan warga kota sudah tidur. Umar bin Khatab r.a. berjalan menyelusuri jalan-jalan di kota. Dia coba untuk tidak melewatkan satupun dari pengamatannya. Menjelang dini hari, pria ini lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Tanpa sengaja, terdengarlah olehnya percakapan antara ibu dan anak perempuannya dari dalam rumah dekat dia beristirahat. 

“Nak, campurkanlah susu yang engkau perah tadi dengan air,” kata sang ibu.
“Jangan ibu. Amirul mukminin sudah membuat peraturan untuk tidak menjual susu yang dicampur air,” jawab sang anak.
“Tapi banyak orang melakukannya Nak, campurlah sedikit saja. Tho insyaallah Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,” kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya.
“Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya. Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya,” tegas si anak menolak.

Mendengar percakapan ini, berurailah air mata pria ini. Karena subuh menjelang, bersegeralah dia ke masjid untuk memimpin shalat Subuh. Sesampai di rumah, dipanggilah anaknya untuk menghadap dan berkata, “Wahai Ashim putra Umar bin Khattab. Sesungguhnya tadi malam saya mendengar percakapan istimewa. Pergilah kamu ke rumah si anu dan selidikilah keluarganya.”


Ashim bin Umar bin Khattab melaksanakan perintah ayahndanya yang tak lain memang Umar bin Khattab, Khalifah kedua yang bergelar Amirul Mukminin. Sekembalinya dari penyelidikan, dia menghadap ayahnya dan mendengar ayahnya berkata,
“Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi isterimu. Aku lihat insyaallah ia akan memberi berkah kepadamu dan anak keturunanmu. Mudah-mudahan pula ia dapat memberi keturunan yang akan menjadi pemimpin bangsa.”

Begitulah, menikahlah Ashim bin Umar bin Khattab dengan anak gadis tersebut. Dari pernikahan ini, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan bernama Laila, yang nantinya dikenal dengan Ummi Ashim. Suatu malam setelah itu, Umar bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam seperti dia memimpin umat Islam. Mimpi ini diceritakan hanya kepada keluarganya saja. Saat Umar meninggal, cerita ini tetap terpendam di antara keluarganya.

Pada saat kakeknya Amirul Mukminin Umar bin Khattab terbunuh pada tahun 644 Masehi, Ummi Ashim turut menghadiri pemakamannya. Kemudian Ummi Ashim menjalani 12 tahun kekhalifahan Ustman bin Affan sampai terbunuh pada tahun 656 Maserhi. Setelah itu, Ummi Ashim juga ikut menyaksikan 5 tahun kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Hingga akhirnya Muawiyah berkuasa dan mendirikan Dinasti Umayyah.

Pergantian sistem kekhalifahan ke sistem dinasti ini sangat berdampak pada Negara Islam saat itu. Penguasa mulai memerintah dalam kemewahan. Setelah penguasa yang mewah, penyakit-penyakit yang lain mulai tumbuh dan bersemi. Ambisi kekuasaan dan kekuatan, penumpukan kekayaan, dan korupsi mewarnai sejarah Islam dalam Dinasti Umayyah. Negara bertambah luas, penduduk bertambah banyak, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, tapi orang-orang semakin merindukan ukhuwah persaudaraan, keadilan dan kesahajaan Ali, Utsman, Umar, dan Abu Bakar. Status kaya-miskin mulai terlihat jelas, posisi pejabat-rakyat mulai terasa. Kafir dhimni pun mengeluhkan resahnya, “Sesungguhnya kami merindukan Umar, dia datang ke sini menanyakan kabar dan bisnis kami. Dia tanyakan juga apakah ada hukum-hukumnya yang merugikan kami. Kami ikhlas membayar pajak berapapun yang dia minta. Sekarang, kami membayar pajak karena takut.”

Kemudian Muawiyah membaiat anaknya Yazid bin Muawiyah menjadi penggantinya. Tindakan Muawiyah ini adalah awal malapetaka dinasti Umayyah yang dia buat sendiri. Yazid bukanlah seorang amir yang semestinya. Kezaliman dilegalkan dan tindakannya yang paling disesali adalah membunuh sahabat-sahabat Rasul serta cucunya Husein bin Ali bin Abi Thalib. Yazid mati menggenaskan tiga hari setelah dia membunuh Husein.

Akan tetapi, putra Yazid, Muawiyah bin Yazid, adalah seorang ahli ibadah. Dia menyadari kesalahan kakeknya dan ayahnya dan menolak menggantikan ayahnya. Dia memilih pergi dan singgasana dinasti Umayah kosong. Terjadilah rebutan kekuasaan dikalangan bani Umayah. Abdullah bin Zubeir, seorang sahabat utama Rasulullah dicalonkan untuk menjadi amirul mukminin. Namun, kelicikan mengantarkan Marwan bin Hakam, bani Umayah dari keluarga Hakam, untuk mengisi posisi kosong itu dan meneruskan sistem dinasti. Marwan bin Hakam memimpin selama sepuluh tahun lebih dan lebih zalim daripada Yazid.

Kelahiran Umar bin Abdul Aziz

Saat itu, Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz adalah Gubernur Mesir di era khalifah Abdul Malik bin Marwan (685 – 705 M) yang merupakan kakaknya. Abdul Mallik bin Marwan adalah seorang shaleh, ahli fiqh dan tafsir, serta raja yang baik terlepas dari permasalahan ummat yang diwarisi oleh ayahnya (Marwan bin Hakam) saat itu.

Dari perkawinan itu, lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Beliau dilahirkan di Halawan, kampung yang terletak di Mesir, pada tahun 61 Hijrah. Umar kecil hidup dalam lingkungan istana dan mewah. Saat masih kecil Umar mendapat kecelakaan. Tanpa sengaja seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya robek hingga tulang keningnya terlihat. Semua orang panik dan menangis, kecuali Abdul Aziz seketika tersentak dan tersenyum. Seraya mengobati luka Umar kecil, dia berujar,

Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insyaallah terwujud, dialah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini.

Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu sejak beliau masih kecil. Beliau sentiasa berada di dalam majlis ilmu bersama-sama dengan orang-orang yang pakar di dalam bidang fikih dan juga ulama-ulama. Beliau telah menghafaz al-Quran sejak masih kecil. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka spt Imam Malik b. Anas, Urwah b. Zubair, Abdullah b. Jaafar, Yusuf b. Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir.

Semasa Khalifah Walid bin Abdul Malik memerintah, beliau memegang jawatan gabernur Madinah/Hijaz dan berjaya mentadbir wilayah itu dengan baik. Ketika itu usianya lebih kurang 28 tahun. Pada zaman Sulaiman bin Abdul Malik memerintah, beliau dilantik menjadi menteri kanan dan penasihat utama khalifah. Pada masa itu usianya 33 tahun.

Umar bin Abdul Aziz mempersunting Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan sebagai istrinya. Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan adalah putri dari khalifah Abdul Malik bin Marwan. Demikian juga, keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam. Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah.

Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah

Atas wasiat yang dikeluarkan oleh khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada usianya 37 tahun. Beliau dilantik menjadi Khalifah selepas kematian Sulaiman bin Abdul Malik tetapi beliau tidak suka kepada pelantikan tersebut. Lalu beliau memerintahkan supaya memanggil orang ramai untuk mendirikan sembahyang. Selepas itu orang ramai mula berpusu-pusu pergi ke masjid. Apabila mereka semua telah berkumpul, beliau bangun menyampaikan ucapan. Lantas beliau mengucapkan puji-pujian kepada Allah dan berselawat kepada Nabi s.a.w kemudian beliau berkata:

“Wahai sekalian umat manusia! Aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa meminta pandangan daripada aku terlebih dahulu dan bukan juga permintaan daripada aku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiah yang kamu berikan kepada aku dan pilihlah seorang Khalifah yang kamu reda”.
Tiba-tiba orang ramai serentak berkata:
“Kami telah memilih kamu wahai Amirul Mukminin dan kami juga reda kepada kamu. Oleh yang demikian perintahlah kami dengan kebaikan dan keberkatan”.




Lalu beliau berpesan kepada orang ramai supaya bertakwa, zuhud kepada kekayaan dunia dan mendorong mereka supaya cintakan akhirat kemudian beliau berkata pula kepada mereka: “Wahai sekalian umat manusia! Sesiapa yang taat kepada Allah, dia wajib ditaati dan sesiapa yang tidak taat kepada Allah, dia tidak wajib ditaati oleh sesiapapun. Wahai sekalian umat manusia! Taatlah kamu kepada aku selagi aku taat kepada Allah di dalam memimpin kamu dan sekiranya aku tidak taat kepada Allah, janganlah sesiapa mentaati aku”. Setelah itu beliau turun dari mimbar.

Umar rahimahullah pernah menghimpunkan sekumpulan ahli fekah dan ulama kemudian beliau berkata kepada mereka: “Aku menghimpunkan kamu semua untuk bertanya pendapat tentang perkara yang berkaitan dengan barangan yang diambil secara zalim yang masih berada bersama-sama dengan keluarga aku?” Lalu mereka menjawab: “Wahai Amirul Mukminin! perkara tersebut berlaku bukan pada masa pemerintahan kamu dan dosa kezaliman tersebut ditanggung oleh orang yang mencerobohnya.” Walau bagaimanapun Umar tidak puas hati dengan jawapan tersebut sebaliknya beliau menerima pendapat daripada kumpulan yang lain termasuk anak beliau sendiri Abdul Malik yang berkata kepada beliau: “Aku berpendapat bahawa ia hendaklah dikembalikan kepada pemilik asalnya selagi kamu mengetahuinya. Sekiranya kamu tidak mengembalikannya, kamu akan menanggung dosa bersama-sama dengan orang yang mengambilnya secara zalim.” Umar berpuas hati mendengar pendapat tersebut lalu beliau mengembalikan semula barangan yang diambil secara zalim kepada pemilik asalnya.
Sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta.
Umar berkata kepadanya, “Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua.”
Fatimah bertanya kepada suaminya, “Memilih apa, kakanda?”
Umar bin Abdul Azz menerangkan, “Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai dengan Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu.”
Kata Fatimah, “Demi Allah, Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.”

Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.

Setelah menjadi khalifah, beliau mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada sistem feodal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah :
1) menghapuskan cacian terhadap Saidina Ali b Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran
2) merampas kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah dan mengembalikannya ke Baitulmal
3) memecat pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalahgunakan kuasa dan pegawai yang tidak layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah
4) menghapuskan pegawai pribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan askar-askar yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.

Selain daripada itu, beliau amat menitilberatkan tentang kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.

Beliau juga amat menitikberatkan penghayatan agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjammah dan masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebegaimana yang berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin. Baginda turut mengarahkan Muhammad b Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun hadith-hadith Raulullah SAW. Beliau juga meriwayatkan hadis dari sejumlah tabiin lain dan banyak pula ulama hadis yang meriwayatkan hadis daripada beliau.

Dalam bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikawan Islam supaya menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek, Latin dan Siryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat Islam.

Dalam mengukuhkan lagi dakwah Islamiyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk Islam.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau ingin semua rakyat dilayani dengan adil tidak memandang keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di zaman kakeknya, Khalifah Umar Al-Khatab.

Pada masa pemerintahan beliau, kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mahu menerima zakat. Rakyat umumnya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya mau berdikari sendiri. Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra, pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekausaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya.

Kematian beliau

Beliau wafat pada tahun 101 Hijrah ketika berusia 39 tahun. Beliau memerintah hanya selama 2 tahun 5 bulan saja. Setelah beliau wafat, kekhalifahan digantikan oleh iparnya, Yazid bin Abdul Malik.

Muhammad bin Ali bin Al-Husin rahimahullah berkata tentang beliau: “Kamu telah sedia maklum bahwa setiap kaum mempunyai seorang tokoh yang menonjol dan tokoh yang menonjol dari kalangan Bani Umaiyyah ialah Umar bin Abdul Aziz, beliau akan dibangkitkan di hari kiamat kelak seolah-olah beliau satu umat yang berasingan.”

Terdapat banyak riwayat dan athar para sahabat yang menceritakan tentang keluruhan budinya. Di antaranya ialah :
1) At-Tirmizi meriwayatkan bahwa Umar Al-Khatab telah berkata : “Dari anakku (zuriatku) akan lahir seorang lelaki yang menyerupainya dari segi keberaniannya dan akan memenuhkan dunia dengan keadilan”
2) Dari Zaid bin Aslam bahawa Anas bin Malik telah berkata : “Aku tidak pernah menjadi makmum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah SAW yang mana solat imam tersebut menyamai solat Rasulullah SAW melainkan daripada Umar bin Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah Gabenor Madinah”
3) Al-Walid bin Muslim menceritakan bahawa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata : “Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi : “Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah baiah kepadanya kerana dia adalah pemimpin yang adil”.” Lalu aku menanti-nanti sehinggalah Umar b. Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun mendapatkannya dan memberi baiah kepadanya”.
4) Qais bin Jabir berkata : “Perbandingan Umar b Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Firaun”
5) Hassan al-Qishab telah berkata :”Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar Ibnu Aziz”
6) Umar b Asid telah berkata :”Demi Allah, Umar Ibnu Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai :”Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mahu”. Tetapi tiada yang mahu menerimanya (kerana semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya”
7) ‘Atha’ telah berkata : “Umar Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha’ setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis kerana takut kepada azab Allah seolah-olah ada jenayah di antara mereka.”


Wallahu a’lam…

sumber:
http://cafe.degromiest.nl/node/260
http://permai1.tripod.com/umaraziz.html

http://kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=120

Baca KISAH TOKOH MUSLIM LAINNYA :

Sejarah Singkat Imam Al Baihaqi

Mengenang Almarhum Ahmad Sumargono


Ahmad Sumargono , lebih popular disebut Gogon- lahir di Jakarta, 1 Februari, 1943, dari pasangan R.Sumantri dan R.R. Sumariah ,meninggal dunia, Jumat (24/2/2012) dini hari  di Sukabumi, Jawa Barat.

Masa Kanak kanak Dan Masa Remaja 
 Sebenarnya bukan anak Betawi asli melainkan dari 'Wetan' yaitu berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, namun karena dibesarkan di lingkungan masyarakat Betawi di Petojo, Jakarta Pusat maka bukan saja gaya bicaranya ala Betawi, lebih dari itu ia sangat terpengaruh oleh kebiasaan orang Betawi. Jadi secara geneologis Jawa tetapi secara kultural ia telah di ?Betawikan.? Ia anak ke 5 dari 7 bersaudara, yang terdiri dari 4 laki-laki dan 3 perempuan. Ayahnya telah wafat saat Gogon masih kecil. Dari tujuh bersaudara Gogon termasuk anak yang beruntung, karena hanya dia satu-satunya yang berkesempatan mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi dan menyandang gelar kesarjanaan bahkan saat ini sedang menyelesaikan tesis untuk meraih Magister Manajemen di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Di usia tiga tahun, ia ditinggal wafat ayahnya, lalu dibesarkan oleh kehidupan yang penuh keprihatinan. Tak lama kemudian, ia diasuh oleh bibinya, Supartinah dan pamannya Mohammad Arup, orang Betawi di kawasan Petojo, Jakarta Pusat. Arup bekerja di Departemen Keuangan dan belum memiliki anak. Allah maha mengetahui harapan hambanya ini. Hamba yang selalu berdoa memohon kehadiran seorang anak do?anya dikabulkan Tuhan. Rupanya, kehadiran Gogon dalam rumah pamannya 'memancing' bibinya untuk memiliki anak. Maka, baru setahun setelah Gogon tinggal bersama keluarga pamannya itu, Alllah pun menganugrahi keluarga Arup seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Bambang Sukamto.
Keluarga Arup bukanlah keluarga yang penuh kemewahan material. Sangat Sederhana. Di tengah-tengah keluarga sederhana dan jauh dari cara hidup yang hura-hura, Gogon tumbuh dan berkembang. Mengenai pengalamannya hidup bersama keluarga pamannya itu, Gogon mengungkapkan bahwa sebagai anak ?angkat? tentu secara psikologis berada posisi yang berbeda dengan misannya itu, ?mungkin? ia mesti menyadari, bagaimana memposisikan diri di tengah orang tua angkatnya itu, apalagi ayah angkatya itu, sangat ?keras? dalam mendidik anak. Saya tak punya jas, sehingga tak pernah pergi ke pesta, ia lebih banyak mengaji di Masjid, dengan ilmu agama Islam tradisional. Gogon, mengenyam pendidikan dimulai di Sekolah Rakyat (SR) Petojo Udik, Jakarta yang diselesaikan tahun 1956, kemudian ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta AMPRI di Jakarta yang diselesaikannya tahun 1960.

Dalam masa remajanya, selain mengaji ia pernah belajar ilmu kanuragan [2] dan belajar pencak silat yang dilakukan usai jam pelajaran sekolah. Memang dalam kehidupan masyarakat Betawi menurutnya hanya ada dua; kalau tidak pergi ke masjid atau mengaji, belajar silat. tidak ada pilihan lain. 'Ngaji' dan 'main Pukulan' dua tradisi yang 'harus' dilaluinya sebagaimana anak Betawi umumya. Sampai ia menginjak dewasa minat Gogon terhadap ilmu bela diri makin besar. Ia tak ragu menelusuri berbagai kampung di daerah Banten untuk berguru ilmu kebal. Akan tetapi setelah cukup lama mempelajari ilmu itu, Gogon pun merasakan sesuatu yag tidak beres. Ia merasa mempelajari ilmu kanuragan sia-sia dan menjauhkan dirinya dari Tuhan. Segera saja ia meninggalkan ilmu tersebut. Kehidupan masa itu disebutnya sebagai masa ?zaman jahiliyah, belum kenal Tuhan.


Gogon ingin mencari sebuah kehidupan baru yang diwarnai oleh kedekatannya kepadaTuhan. Ia berhasil menemukannya. Masa beranjak dewasa dan perantauan pemikiran dan mental membuatnya menemukan suasana kebatinan dan religius yang lebih dalam, Gogon mulai banyak merenung dan menyendiri ?mencari? makna hidup dan kehidupan yang lebih dalam dari itu. Ia pun menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMU) dari Sekolah Menengah Atas Negeri X pada tahun 1963. Waktu itu merupakan masa dimana ia mulai aktif beribadat seperti puasa Senin-Kamis, Sholat Tahajud, mengikuti pengajian yang khusus dan umum.

Di masa Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, ia mulai berkecimpung dalam dunia organisasi pemuda lokal, yaitu aktifitas pemuda antar Rukun Warga (RW) sekawasan Petojo Selatan. Ia mengkoordinir uang hasil pendapatan para penjual Koran dan majalah. Di sini, nampak naluri berorganisasi dan bisnisnya mulai muncul. Dan hal itu datang secara alami, tidak dibuat-buat. Ia pun belajar mengaji secara khusus dengan guru ngaji yang bernama Engkong Sanen. Dari sini Gogon mulai banyak 'bergaul' dengan kalangan yang usianya jauh di atasnya (para orang tua). Ia pun dipercaya untuk menjadi Imam sholat berjamaah di lingkungan tempat tinggalnya, sambil juga belajar ilmu qiroah dengan Ustad Kholili dari Banten. Ustad Kholili murid dari Kiai ternama di Banten yaitu Kiai Ma?mun. Gogon sempat di gurah semata untuk dapat membaca Al Qur?an dengan cara baca yang indah.

Pada masa ini ia mulai mengenal apa yang disebut partai politik yaitu Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Ia pun sangat mengagumi Soekarno dan Marhenismenya, dalam perspektif sejarah politik di Indonesia. Saat itu memang banyak pemuda yang terpikat dengan gaya pidato pemimpin besar revolusi Indonesia yang memukau dan penuh retorika, dan ini diakui oleh masyarakat Internasional. Sebaliknya Gogon belum banyak tahu mengenai Partai Masyumi serta tokoh-tokohnya, tidak sulit bila kita mengkaji, kenapa demikian. Hal ini disebabkan karena lingkungan sosial dan keagamaan tempat Gogon berinteraksi dan bergaul, berada di lingkungan masyarakat Jakarta yang tradisional baik dalam pandangan pemahaman agama maupun ?dunia? politik masih sangat terbatas. Apa lagi orang tua angkatnya berlatar belakang abangan dalam penerapan pemahaman agama.

MASA KEMAHASISWAAN
 
Usai Gogon menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMU), minatnya mulai berubah menjelang menjadi mahasiswa ditahun 1963. Ia sempat tertarik ajaran Marhaen, dan ia nyaris menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kalau saja kantor GMNI di Pegangsaan tidak tutup. Waktu itu mengikuti kuliah di dua Universitas dengan fakultas yang sama yaitu ekonomi. Gogon kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan Universitas Indonesia (UI) tahun 1963, dan ini dilakukan dengan pertimbangannya, karena ada kekhawatiran bila tidak diterima di perguruan tinggi negeri yang bergengsi itu ia tetap dapat berkuliah, semacam serep. Di UKI hanya sempat kuliah 1 semester, selebihnya ia mengikuti pendidikan tinggi itu di Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta sampai tamat.

Namun, ia kemudian berubah pikiran, dalam memandang wacana politik yang selama ini dipahaminya. Ketika kantor GMNI itu sedang tutup, ia sempat ?digarap? kangan senior mahasiswa Universitas Indonesia yang mereka telah bergabung dalam aktivitas organisasi ekstra mahasiswa yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan ini terjadi saat masa perpeloncoan. Dari dunia kemahasiswaan di HMI ini ia mulai berkenalan dengan seniornya diantaranya Firdaus Wajdi, Eky Sahruddin, Fahmi Idris, Mar?i Muhammad, juga tokoh dan senior HMI yang rajin memberikan kursus-kursus politik yaitu almarhum Bapak Dahlan Ranuwihardjo. Dari sinilah, Gogon mengalami babak baru dalam pemahamannya terhadap Islam, teologis-ubudiah, kini meluas kepada pemahaman Islam Ideologis-amaliah al muamalah, atau istilah penulis pemahaman holistic Islam. Aktivitas di lingkungan HMI pada masa itu lebih kepada social action. Ini lebih banyak bukan didalam kampus, Gogon bergabung dengan HMI rayon Petojo, Grogol, dan Tomang (PGT). Gogon telah masuk dalam perjuangan Islam secara ideologis, ia memiliki kawan dekatnya yaitu Ridwan Saidi dan Mar?i Muhammad, para aktivis HMI dari kampus UI, dan ketiga orang ini dikenal dengan ?Trio sekawan?. Ketiganya kemudian dipercayakan duduk di kepengurusan HMI pada tingkat pengurus besar di era kepemimpinan Sulartomo. Bedanya, kawan-kawan Gogon sempat menjabat pada tingkat teras kepemimpinan, sedangkan Gogon cukup di level departemen kader, mereka kenal sejak dimasa perpeloncoan itu.

"Awal mula saya belajar soal politik Indonesia dari sahabat saya Mar?i Muhammad, seorang mahasiswa, aktivis HMI keturunan Arab,? ujarnya. Darinya kemudian ia dikenalkan dengan tokoh mahasiswa tingkat nasional masa itu seperti David Napitupulu, Cosmas Batubara, Zamroni, Husni Tamrin yang dikenal kemudian sebagai tokoh mahasiswa angkatan ?66? dalam wajah pergulatan pemuda dan mahasiswa di Indonesia. Kemudian Gogon melakukan pembinaan soal kepemimpinan, keorganisasian, keislaman dan masalah politik dengan belajar banyak pada Almarhum Mas Dahlan Ranuwihardjo SH, mantan Ketua PB HMI yang sangat mumpuni dan disegani. Gogon sempat tinggal di rumah Mas Dahlan selama tiga tahun mengenai Dahlan, Gogon berkomentar:

"Waktu itu Mas Dahlan memegang jabatan sebagai anggota DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong), lembaga legislatif bentukan dari mantan Presiden Soekarno. Mas Dahlan sebagai senior HMI yang banyak menularkan pengetahuannya kepada saya dan teman-teman terutama menyangkut materi ideologi, kepemimpinan dan strategi dan taktik. Saya tidak hanya menyerap ilmu dari beliau, melainkan juga membantu pekerjaan sehari-hari beliau dalam, seperti mengetik surat dari berbagai aktivitas keorganisasiannya. Akan tetapi saya dekat bukan karena soal ketertarikan pada ajaran Soekarnoismenya, yang dalam hal ini Mas Dahlan cukup banyak pengetahuan tentang hal itu."

Perjalanan hidup seseorang, bukan garis linear. Ia terkadang jalan berkelok, bagai lurah (lembah) kehidupan penuh terjal dan pendakian. Kehidupan seseorang dapat pindah dari satu ruang kehidupan yang satu ke yang ruang lain dan itu kemudian membentuk karakter sejarahnya sendiri. Demikian Gogon, selain ditempa di HMI dan kampus UI Salemba, juga terbina dalam aktivisme pengajian asuhan ustadz Sobary. Ustad Mohammad Sobary, bukanlah orang yang baru dimata Gogon, sebenarnya mereka tinggal bertetangga, akan tetapi intimitas itu dimulai ketika keluarga Ustad Mohammad Sobary mengalami cobaan, istri beliau sakit, hingga kemudian dipanggil oleh Al Khalik. Dikemukakannya:

Saya kagum dengan Ustad Mohammad Sobary, ia menguasai ilmu agama yang luas, hafal Al Qur?an (hafiz) dan menguasai 4 bahasa yaitu Inggris, Perancis, Belanda dan bahasa Arab. Ia pernah tinggal di London-Inggris menyelesaikan pendidikan Masternya di bidang kepustakaan. Pengetahuannya diraih sebagian besar secara otodidak. Saya banyak berguru kepadanya.

Ustad Mohammad Sobary selain berpengetahuan sangat luas, sebagai kiai, kepribadiaanya juga sangat mengagumkan ia seorang dermawan, rasa solidernya tinggi terhadap siapapun termasuk Gogon. Kyai Sobari juga orang yang khusu? dalam sholatnya tidak jarang beliau menitikkan air matanya ketika sholat. Kekaguman dan kedekatan Gogon itu mengantarkannya aktif bersama-sama di organisasi Al-Irsyad. Kyai Sobary pernah menjabat sebagai Ketua Umum dan Gogon sebagai Sekretaris Umum diorganisasi tersebut, ini sekitar tahun 1980-an.

Awalnya Gogon turut membina akivitas masjid sebagai ketua remaja Masjid Nurul Ala Nurin di kawasan Petojo. Di sini Gogon dan kalangan remaja lainnya selalu mengadakan kegiatan pengajian-ceramah setiap hari Jum?at dan Ahad, atau dua kali dalam satu minggu. Gogon yang telah tertempa di organisasi HMI dan organisasi kampus, mampu memainkan peran kepemimpinannya di lingkungan tempat tinggalnya melalui lembaga masjid. Di Masjid ini ia sering mengundang tokoh-tokoh Islam, kalangan ulama maupun cendiekiawan, khususya dari kalangan Masyumi seperti Bapak DR. Mohammad Natsir, Prof. DR. Hamka, Buya Sutan Mansur, Buya Malik Ahmad, DR. Mahmudin Sudin dan banyak lainnya. Sosialisasi yang intens ini semakin mendekatkan cara berfikir dan berjuang sebagaimana kalangan tokoh Islam itu. Islam bagi Gogon telah menjadi pandangan dan cita cara berjuang hidup.

Perlu diketahui bahwa pada masa mahasiswa, untuk biaya kuliah Gogon berasal dari pamannya, sewaktu masih di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Masa dibangku kuliah juga telah terlibat dalam aktivitas keorganisasian mahasiswa untuk kegiatan dibidang mengelola lembaga pers Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan aktif di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam sebagai staf Biro kader PB HMI. Namun seperti yang di akui Gogon, Ustad Mohammad Sobary memiliki andil yang besar dalam menghadapi tantangan hidup yang dihadapinya dikemudian hari.
 
Jadi Da'i dan Politisi

Ahmad Sumargono bukanlah sosok politisi dan dai yang muncul karena fasilitas yang didapat dari kebaikan atau belas kasihan orang lain. Ia juga bukan tipikal politisi yang tampil bak selebritis yang "dimanjakan" oleh publisitas agar namanya selalu "terjaga" dan "melambung" dengan segenap kosmetik politik yang penuh "cover", atau membutuhkan stamina permainan yang selalu menyiapkan citra diri (image) yang dibangun lewat jargon-jargon atau cerita mistik guna mengabsahkan kehebatan seorang tokoh.
Dalam buku Ahmad Sumargono, Dai & Aktifis Pergerakan Islam yang Mengakar di Hati Umat, dijelaskan bahwa alumni UI yang akrab dipanggil Gogon ini adalah seorang anak bangsa sebagaimana aktivis lainnya yang lahir dari suatu pergulatan pemikiran dan aksi perjuangan sosial dari bawah.
Secara alamiah, ketika ia mulai menemukan pilihan "ideologi" perjuangan dan manakala sosialisasi yang secara intens diperolehnya, maka secara naluriah dan hikmah, mulailah ia terjun ke medan aktivitas di lingkungannya: mengorganisir remaja dan jamaah Masjid Nurun ala Nurin; belajar berorganisasi dari seniornya di kampus dan di HMI; mengikuti kursus politik dari Mas Dahlan; belajar agama dari Kiai Mohammad Sobari.
Ahmad Sumargono pun berinteraksi secara terus-menerus dengan tokoh politik dari kalangan Masyumi seperti Natsir, Buya Hamka, Buya Malik dan lainnya melalui ceramah-ceramah mereka.
Ditambah dengan buku-buku gerakan yang dibacanya, Gogon mulai menapak ke padang dakwah di belantara Jakarta pada era 1970-1980-an. Ia berceramah dari mushola ke mushola, dari halaqoh ke halaqoh di kampus-kampus, lingkungan remaja masjid dan aktivitas training yang dilakukan oleh ormas Islam. Nampaknya potensi dan talenta Gogon mulai tergosok untuk menjadi sosok figur yang dikenal. Sikap kritisnya menjadikan dirinya sebagai sasaran "tembak" di masa rezim Orde Baru, bahkan ia dicap sebagai orang "berbahaya" atau dangerous man.
Gogon tidak berhenti sampai di sini. Ia lalu bergabung dengan Korps Mubalig (KMJ) Jakarta pada 1980-an, sebuah organisasi dakwah yang menghimpun segenap dai yang kritis. Setelah Dalali Umar, ia kemudian menjadi ketua KMJ. Melalui KMJ ini, mulailah namanya dikenal, terutama di wilayah Jakarta, sebagai penceramah yang lugas dan keras tanpa kehilangan argumentasi dan fakta serta dengan cara yang tidak emosional.
Wilayah perhatian dakwahnya menjadi lebih luas ketika KISDI berdiri dan Gogon tampil sebagai ketua harian wadah tersebut. Kritikannya bertumpu pada kondisi umat Islam yang selalu dimarjinalkan dan dizalimi dalam kancah politik di satu sisi, serta gugatannya atas keadaan umat Islam di berbagai wilayah dunia yang mengalami penderitaan akibat hegemoni Barat terhadap dunia Islam di sisi lainnya.
Kasus bangsa Palestina, Kashmir, Moro, Patani, Afghanistan, Bosnia, Kosovo, Chechnya, Aljazair, Turki dan Irak menjadi perhatian dari pernyataan-pernyataan dan pidato Gogon di tengah jamaah pengajian maupun kalangan pers.
Saat itulah ia mulai memasuki wilayah percaturan politik nasional dan mulai dikenal serta dekat dengan kalangan muda Islam yang selama 20 tahun berada dalam tekanan politik yang hebat dari pemerintah Orde Baru. Ia sering diminta berceramah dan memberikan kursus-kursus intensif soal agama yang dihubungkan dengan kemasyarakatan.
Kemauan yang kuat untuk mau turun membina anak-anak muda Islam mengingatkan penulis kepada sosok Mas Dahlan Ranuwihardjo. Apakah Gogon mengambil contoh darinya? Yang jelas ia pernah tinggal dengan Mas Dahlan selama tiga tahun.
Mas Dahlan merupakan salah satu contoh pejuang politik yang mau membina anak-anak muda secara intens, dinamis dan ikhlas melalui kursus-kursus politiknya. Ini juga mengingatkan penulis pada para tokoh besar dalam sejarah, seperti HOS Tjokroaminoto. Bukankah ia memiliki murid yang kemudian tercatat dalam sejarah besar bangsa: Soekarno, Kartosuwiryo dan Semaun. Atau Haji Agus Salim, yang melahirkan murid-muridnya seperti Mohammad Natsir, Soekiman, Mohammad Roem, Syamsurizal, yang sangat disegani. Demikian pula Mohammad Hatta dan Syahrir dengan kelompok studinya, dan pemimpin bangsa lainnya yang juga membina kadernya.
Gogon juga sangat dikenal kalangan muda dan aktivis. Rumahnya yang berada di kawasan Jakarta Timur, tepatnya di lintasan Jalan H. Baping, pada saat-saat tertentu sering dijubeli anak-anak muda serta tokoh dari berbagai lapisan dan wilayah, tidak terbatas dari Jakarta saja.
Di tempat ini secara khusus sering diadakan pelatihan, kursus keagamaan dan peningkatan wacana keumatan maupun politik. Selain itu, tempat ini juga menjadi markas untuk mengorganisir sebuah event seperti rapat akbar, aksi protes, demo, pernyataan pers sampai pada aktivitas yang bersifat membangun solidaritas serta aksi sosial.
Gogon bagai "bola bekel" politik, ia menukik ke bawah hingga ke tingkat massa dan menyentuh aspirasinya, lalu melambung lagi ke atas hingga akrab dengan kalangan elit politik lainnya.
Ia bergerak dinamis, lincah, karena tanggap terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa dengan memotivasi massa untuk mau peduli dalam menyuarakan keadilan dan kemerdekaan. Gogon pun menghimpun berbagai eksponen kekuatan umat melalui kegiatan silaturahmi secara kontinyu, dan membangun muara persepsi kepada semua pihak untuk membangun cita-cita bersama.
Apabila di era Orde Baru ia hanya mampu membangun dan masuk jaringan dari kelompok kecil lalu bergerak ke organisasi sosial yang lebih formal dan terorganisir dengan berjuang di luar parlemen, maka di era Reformasi Gogon tampil dalam arena organisasi massa yang lebih luas jangkauannya, yaitu Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) yang diketuainya;
Membangun Wadah Perjuangan: KMJ, KISDI dan GPMI
Berdakwah di lapisan bawah (grass roots) bukan perkara yang mudah, apalagi dakwah yang disampaikannya "beraroma" kesadaran politik dan bersikap kritis dengan keadaan yang dihadapi umat di negeri ini.
Era 1980-an merupakan era yang penuh getir dan risiko bagi seorang dai seperti Sumargono. Ia harus siap menghadapi rasa keterasingan (alienasi), karena apa yang disampaikan, sekalipun dengan jujur dan tulus ikhlas, bila masuk wilayah politik dapat terkena "pinalti" dari pihak keamanan dengan berbagai tudingan. Ini dialaminya ketika masuk ke "penjara" karena tudingan sebagai aktivis DI/TII.
Celakanya pada masa itu, orang yang masuk dan keluar dari penjara karena persoalan politik akan mengalami alienasi sosial, karena orang akan ragu, segan untuk mendekat, khawatir terbawa-bawa akibatnya.
a. Korps Mubalig Jakarta (KMJ). Gogon bergabung dengan Korps Mubalig Jakarta (KMJ), sebuah lembaga yang menghimpun para mubalig di Jakarta, pada tahun 1980-an selepas dari tahanan. Korps Mubalig Jakarta lahir sebagai kepedulian para dai untuk memperkuat barisan guna menghadapi berbagai isu dan tantangan dalam dunia dakwah.
Mulanya KMJ dipimpin oleh KH. Dalali Umar, namun karena terjadi kemelut, maka kepemimpinan dipercayakan kepada Sumargono. Organisasi ini sampai sekarang tetap berdiri dan terus berkembang.
b. Komite Solidaritas Indonesia untuk Dunia Islam (KISDI). Nama KISDI tidak asing di kalangan aktivis dan pengamat sosial politik dan keagamaan, khususnya di kalangan umat Islam. Sejak kelahiran organisasi ini pada tahun 1986, nama Ahmad Sumargono seakan identik dengan lembaga tersebut.
Komite ini sebenarnya digagas oleh tokoh senior Masyumi yang disegani yaitu DR. Mohammad Natsir (almarhum) dan sejumlah tokoh lainnya seperti Hussein Umar, Jami'at Jufri, Zaqi dan Kholil Ridwan (Ketua MUI sekarang, red).
Mulanya wadah ini didirikan oleh berbagai kalangan umat untuk merespons dan membangun solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina. Anggotanya terdiri dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Korps Mubalig Jakarta (KMJ), Al-Irsyad dan sebagainya. Gogon sendiri diberi kepercayaan sebagai Ketua Harian KISDI.
Melihat namanya, KISDI seyogianya lebih berorientasi pada kasus-kasus internasional, akan tetapi dalam prakteknya, lembaga ini lebih banyak menggugat masalah domestik: kasus jilbab, perjudian, miras, makanan haram, masalah kristenisasi, sekulerisasi dan Aliran Kepercayaan.
Dalam perkembangannya KISDI juga melakukan social action terhadap berbagai peristiwa yang diderita umat Islam di berbagai belahan dunia: penderitaan rakyat Palestina di kamp-kamp pengungsian, Umat Islam di Kashmir, Filipina Selatan, Afghanistan, Bosnia-Herzegovina, Kosovo dan lainnya. Sebaliknya KISDI sangat getol melakukan pengutukan terhadap tindakan biadab Israel dan sikap Amerika Serikat yang ?bermusuhan? terhadap perjuangan umat Islam.
Ini dilakukan dengan aksi protes melalui demo dan unjuk rasa. Selain itu aksi yang bernuansa politis (political action) juga dilakukan, misalnya protes dalam persoalan persepsi yang salah atas berbagai kerusuhan di tanah air -- Tasikmalaya, Kupang, Ambon sampai ke Poso; juga perjuangannya yang penuh komitmen yang menuntut penerapan syariat Islam. Sikap Gogon sebagai "komandan" KISDI yang tanpa tedeng aling-aling ini memang membuat dia sering dicurigai.
Karena protesnya terhadap berbagai pihak, mulai dari majalah Jakarta-Jakarta, harian Kompas, dan CSIS, tidaklah mengherankan jika Gogon dan KISDI dianggap oleh banyak pihak sebagai kelompok yang garang. "Kami bergerak karena kepentingan umat Islam terancam," ucap Gogon sebagai Wakil Ketua KISDI.
Sementara itu, Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI). Wadah ini lahir di tengah-tengah suasana eforia sosial dan politik bangsa Indonesia di masa Reformasi, tepatnya pada bulan Syawal tahun 2000.
Gogon sebagai tokoh utama penggagas ini mendapatkan dukungan yang sangat luas dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Lahirnya wadah ini dilatarbelakangi oleh suasana eforia bangsa yang berimbas kepada umat Islam.
Berdirinya partai-partai politik dan organisasi-organisasi yang demikian banyak, ditambah adanya "ketegangan" politik antara kalangan Nasionalis Islam dengan Nasionalis sekuler yang basis pendukungnya juga sama-sama umat Islam, mendorong untuk berdirinya wadah Islam yang dapat mencairkan situasi itu.
Lebih dari itu kelahiran GPMI diharapkan mampu menjadi "jembatan emas" untuk merajut silaturahmi di antara berbagai lapisan elit Islam yang beredar di berbagai organisasi dan partai. Hal lainnya adalah perlunya wadah yang dapat memberikan perhatian secara lebih holistik menyangkut problematika umat dan bangsa dan itu hanya dapat dilakukan bila segenap potensi umat dapat "duduk" bersama dan membicarakannya dengan nuansa persaudaraan.
Ketika GPMI dideklarasikan, sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang aktivitas turut hadir: mulai dari kalangan ulama, partisan, wartawan, artis, cendekiawan kampus, pemuda, sampai kalangan massa.
Dalam suasana silaturahmi yang diadakan di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, tersedia acara-acara penting selain deklarasi itu sendiri. Sambutan disampaikan H. Ahmad Sumagono, SE selaku Ketua Umum GPMI. Ia menjelaskan panjang lebar mengenai latar belakang, maksud dan tujuan berdirinya organisasi GPMI, yang saat ini telah ada sejumlah perwakilan di tingkat Wilayah dan Cabang.
Puncak acaranya adalah pembacaan "Pernyataan Keprihatinan" GPMI terhadap berbagai perkembangan nasional yang terjadi, ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal GPMI. Hadir dalam acara itu antara lain dari kalangan Partai maupun militer.
Pengurus besar GPMI telah melakukan rapat kerja yang dilakukan di Cisarua Bogor dengan hasil, dirumuskannya AD/ART, Pedoman Kerja Organisasi dan Struktur Organisasi yang telah disetujui dalam rapat pleno.
Sebagai organisasi yang bergerak pada aktivitas sosial, GPMI sangat peduli memberikan bantuan dan santunan akibat korban banjir, kebakaran, gempa bumi, serta pembagian hewan qurban bagi para dhuafa. Dalam membangun wacana, maka GPMI telah melakukan sejumlah diskusi, pelatihan bagi para pemuda yang putus sekolah, sampai kepada menghadirkan pembicara yang profesional di bidangnya, dan melakukan aksi kritis untuk peduli terhadap aspirasi publik dengan melakukan tablig akbar.
Hal lain adalah melakukan kunjungan ke sejumlah tokoh dan ulama untuk menguatkan tali silaturahmi, di antaranya menjadi tamu kehormatan Wakil Presiden Hamzah Haz di kantor dinasnya.
Menuju Ukhuwah Politik
Islam dan dunia politik merupakan dua sisi dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Islam bukan "agama" yang hanya memberikan petunjuk mengenai keyakinan akan keberadaan Tuhan dan bagaimana ritualitas itu harus dilakukan (yang bersifat ubudiah). Sebaliknya, Islam merupakan din, suatu petunjuk yang memberikan bimbingan atau guidance mengenai bagaimana manusia itu dapat beriman dengan baik dan benar, sekaligus beramal shaleh.
Lapangan amal shaleh itu dalam prinsipnya sangatlah luas. Dalam Alquran sangat banyak ayat yang menyuruh manusia dan orang beriman untuk berpikir, merenung dan memikirkan kejadian alam, penciptaan dan bagaimana mengambil pelajaran terhadap kejadian-peristiwa masa lalu, termasuk gambaran suatu kaum, bangsa, pemimpin yang zalim, fasik dan pemimpin yang alim, dan hikmah.
Alquran juga memberikan penjelasan yang tegas dan nyata mengenai untuk apa Rasul diutus dan mengapa Islam dikatakan sebagai ajaran yang sempurna, sebagai ajaran untuk semua zaman.
Relevansinya. Spirit Islam tentang manusia adalah bahwa manusia diciptakan dari yang satu, dan sesama manusia itu adalah saudara, karena itu konsep ukhuwah atau persaudaraan menjadi penting sebagai seorang mukmin. (Pz/SumberAhmad Sumargono, Dai & Aktifis Pergerakan Islam yang Mengakar di Hati Umat)