– Huda Dodge lahir dan besar di pinggiran kota Bay Area, San Anselmo. Ia tumbuh dan besar dalam keluarga Kristen. Ayahnya seorang Presbiterian dan ibunya penganut Katolik membuat Huda cukup aktif menghadiri layanan gereja saat usianya masih belia.
Ketika 14 tahun, Huda sudah membantu istri pendeta untuk mengajak di sekolah minggu. Pada jenjang sekolah menengah, ia bahkan mendirikan kelompok pemuda gereja dengan merekrut empat temannya. Ini merupakan kelompok Presbistarian pertama yang dibentuk Huda. Selanjutnya, ia menjadi anggota kelompok Prebistarian yang lebih besar.
Bersama kelompoknya itu, ia kerap melakukan perjalanan menuju Meksiko. Disana, Huda bersama teman-temannya itu mempelajari Alkitab, berdiskusi tentang masalah ketuhanan dan mengumpulkan dana untuk amal.
Dalam diskusi tersebut, Huda mengikuti perdebatan serius tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang hidup sebelum Yesus datang. Mereka juga mendiskusikan tentang mengapa Allah yang penuh kasih dan penyayang membutuhkan pengorbanan Yesus untuk mengampuni dosa manusia. Juga, bagaimana bisa satu tuhan terwujud dalam tiga sosok berbeda. “Tetapi tidak ada jawaban yang tepat terkait masalah tersebut,” kenang Huda.
Pertanyaan itu terus terpendam dalam pemikiran Huda. Pertanyaan itu ia bawa saat menghadiri kamp musim panas. Tetap saja, ia belum mendapatkan jawaban yang sesuai dengan logika berpikir.
Kegelisahan pun semakin menjadi, ketik usai kembali dari kamp musim panas, berjuta pertanyaan terendap tanpa ada jawaban yang memuaskan. “Aku suka menghabiskan waktu untuk merenungkan pemikiran tentang Yesus. Nyatanya, ajaran gereja membingungkan ku,” ungkap dia.
Memasuki jenjang pendidikan tinggi, masih belum juga ia menemukan jawaban atas pertanyaannya. Kesibukannya sebagai mahasiswa sempat membuatnya lupa akan pertanyaan itu. Ia pun kian aktif dalam kegiatan sosial dengan mengajar privat siswa yang berasal dari Amerika Tengah. Ia undang mahasiswa dari seluruh dunia, seperti Prancis, Jerman dan Swedia untuk datang ke rumahnya.
Selanjutnya, Huda mengambil pekerjaan sebagai relawan di San Francisco (distrik Tenderloin) untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada pengungsi perempuan. Di kelas, Huda bertemu dengan Fatimah dan Maysoon, dua janda muslim berdarah Cina dari Vietnam. Bersama keduanya, komunikasi belum terbangun lantaran kendala bahasa. Bahasa tubuh pun menjadi andalan untuk memperlancar komunikasi di antara mereka. “Dari pengalaman ini, aku terhubung dengan dunia luar,” kata dia.
Selanjutnya, Huda ambil bagian dalam kelompok diskusi yang melibatkan mahasiswa internasional. Dalam kelompok itu, Huda berkenalan dengan dua mahasiswa Jepang, satu orang mahasiswa Italia dan Palestina. Interaksi antar mereka pun terbangun. Masing-masing menceritakan pengalamannya. Disinilah, Huda berkenalan dengan Islam.
Saat mendengarkan Faris, mahasiswa Palestina, bercerita Huda merasa terkejut. Ia mengingatkan Huda dengan muslim yang dahulu ia kenal seperti Fatima dan Maysoon. Dari cerita Faris, Huda merasa ada sesuatu yang asing tetapi menarik untuk disimak. Ia tidak begitu paham tentang Islam, karena ia tidak pernah tahu apa itu Islam. “Aku pun mulai belajar tentang Islam. Semakin aku mendalaminya, aku semakin tertarik untuk lebih mengenal Islam,” kata dia.
Sayangnya kelompok itu dibubarkan. Toh itu menghalangi Huda untuk berhenti mengenal Islam. Ia pun mengambil mata kuliah studi Islam. Saat mengikuti kelas itulah, pertanyaan yang terjawab dalam diri Huda berangsur-angsur terbuka. “Islam tidak mengenal pengorbanan Yesus bagi manusia. Tapi Islam membahas hal itu. Yang menarik lagi, Islam juga bercerita bahwa Yesus itu adalah Nabi, seperti nabi sebelumnya, Yesus mengajarkan pesan yang sama yakni percaya pada satu Tuhan,” kata dia.
Setelah pertanyaan mengenai tiga sosok Tuhan dalam konsep trinitas terjawab, Huda merasakan kebenaran sejati telah menghinggapinya. Perspektif yang ditawarkan Islam mudah diterima olehnya. Hudaa yang dikagetkan dengan kenyataan itu merasa lemas seketika. Ia merasa butuh ruang lebih luas untuk meyakini dirinya atas apa yang benar.
Pada musim panas berikutnya, Huda kembali melanjutkan studi Islam. Ia mencari informasi tentang Islam di perpustakaan. Ia pun mulai berdiskusi tentang agama-agama Timur.
Beruntung, teman-teman Huda memahami apa yang ia cari. Oleh teman-temannya itu, Huda disarankan untuk mengunjungi Islamic Center yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Sayang, Huda tak jua menemukan Islamic Center lantaran kesibukannya. Huda pun terus melakukan pencariannya sendiri.
Suatu saat, Huda berbincang dengan keluarganya tentang Eskimo. Mereka mengatakan bahwa orang Eskimo memiliki lebih dari 200 kata untuk menyebut salju. Sebab, salju merupakan bagian dari hidup mereka. Malam harinya, bersama keluarga, Huda berbicara tentang 99 nama yang disebut umat Islam untuk Allah. Entah mengapa, Huda secara spontan berbicara tentang masalah itu. “Aku pikir itu penting untuk diketahui oleh mereka,” katanya.
Pada akhir musim panas, Huda kembali ke kampus. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari Masjid di Barat Daya Portland. Ia pun meminta pengurus masjid untuk memberikan nama muslimah yang dapat diajak berdiskusi tentang Islam. Setelah diberikan alamat, Huda mengunjungi muslimah itu. Saat bertemu dengannya, Huda bertanya tentang muslim, seperti bagaimana cara muslim beribadah.
Huda sebenarnya sudah mengetahui hal itu. Tetapi ia tidak puas bila tidak melihat secara langsung bagaimana seorang muslim beribadah. Huda pun mulai mempraktekan bagaimana shalat. Tak beberapa lama, muslimah itu meminta Huda untuk menghadiri acara akikah anaknya. Ia menjemput Huda. “Aku merasa begitu nyaman ketika mereka berbicara tentang Islam. Saat itulah aku merasa baru saja akan memulai hidup baru,” ujarnya.
Sayang, interaksi itu tidak bertahan lama. Kesibukannya membuat ia sulit untuk bertemu dengan muslimah itu. Tapi hal itu tidak menghentikan langkah Huda untuk mencari informasi tentang Islam sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, Huda berulang kali mengunjungi masjid. Di masjid, Huda merasakan pengalaman pertamanya melihat shalat Jum’at. Tak berselang lama, Huda pun memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Enam bulan setelah menjadi muslim, Huda akan menjalani ibadah puasa pertama. Saat itu pula ia telah memikirkan kemungkinan untuk mengenakan jilbab. Huda masih merasa ragu. Konsultasi pun dilakukannya guna membuatnya yakin untuk mengenakan jilbab.
“Pada awalnya aku tidak siap untuk mengenakan jilbab. Karena imanku belumlah kuat. Tapi aku merasa ketika melihat muslimah lain mengenakan jilbab ada semacam rasa tenang didalamnya. Tapi kalau aku memakainya, tentu orang-orang disekitarku akan bertanya, aku belum siap untuk menjawab hal itu,” papar dia.
Akhirnya, momentum Ramadhan memperkuat niat Huda untuk mengenakan jilbab. Huda merasakan berpuasa dibulan Ramadhan membuatnya kian bangga menjadi Muslim. “Sejak itu aku merasa siap untuk menjawab pertanyaan siapapun,” ucapnya.
Diterima Keluarga
Setelah memeluk Islam, Huda memberitahukan keputusannya kepada keluarga. Huda terkejut bahwa keluarganya tidak mempermasalahkan itu. Mereka menerimanya karena mengetahui putusan Huda berdasar kemauannya sendiri bukan paksaan dari orang lain. Namun, penilaian keluarga mendadak berubah setelah Huda mengenakan jilbab.
“Mereka merasa malu denganku. Mereka pikir perubahan yang aku alami terlalu radikal,” kata dia.
Sikap keluarganya kembali berubah ketika Huda memutuskan untuk menikah dengan Faris. Ia bertemu kembali dengan Faris saat berada di kampus. Faris pun menikahi Huda. Keluarga Huda tidak setuju dengan keputusan itu. Sebab, usia Huda dinilai masih muda, dan mereka khawatir dengan masa depannya. “Mereka sebenarnya menyukai suami saya. Tetapi mereka hanya takut dengan masa depan ku,” kenang Huda.
Tiga tahun berlalu, Huda pun memutuskan pindah ke Corvallis, Oregon. Di tempat barunya itu, Faris dan Hda menetap dalam lingkungan komunitas muslim. Di tempat barunya itu, Huda berhasil menyelesaikan kuliahnya. Ia pun dengan cepat memperoleh pekerjaan,
“Keluargaku akhirnya sadar, dan bangga padaku. Mereka melihat perubahan yang dilakukan justru membuatku bahagia. Hubungan kami pun kembali normal. Melihat hal ini, aku merasa bersyukur Islam menjawab setiap pertanyaanku.”
Latest
Labels
- Afrika
- Ahmadiyah
- Alam
- All About Life and Love
- Amerika
- Answering Muslim
- Artikel Islam
- Asia News
- Atheis
- berita
- berita muslim
- Berita Photo
- Biologi
- Debat Islam Dan JIL
- DIK
- Download
- Dunia Militer
- Ekonomi
- Entertainment
- Europe News
- Game
- Gaya Hidup
- Hadits
- Hukum
- Indonesia
- Inet
- INFO DARI KAMI
- Info Dumay
- Iptek
- Islam
- Islam Afrika
- Islam Amerika
- Islam Asia
- Islam Australia
- Islam Dan Sains
- Islam Eropah
- Islam Nasional
- Islam Nusantara
- Islam Timur Tengah
- Israel
- Istri Rasulallah
- JIL
- Kesehatan
- kisah Rohani
- Kriminal
- Kristen
- Misteri
- Mualaf
- Mujahidin
- Musik
- Muslimah
- Nasional
- Ormas
- Palestina
- PBB
- Pendidikan
- Polhukam
- Potret
- renungan
- Romance
- Sahabat Rasul
- Sastrawan Indonesia
- sejarah
- Sejarah Islam
- Sensosbud
- sitemap
- Sport
- Syi'ah
- Tafsir
- Tantangan Muslim
- Timur Tengah
- Tokoh Islam Dunia
- Tokoh Islam Indonesia
- Tokoh Muslim
- Tokoh Nasional
- Trinitas
- Unik
- video
- Wawancara
- Yahudi
Featured author
admin
PostsThe Admin is a powerful person in this world, more powerful than the president of USA. The very mention of admin sends shivers down the president. You have been warned!
Slider[Style1]
Style2
Style3[OneLeft]
Style3[OneRight]
Style4
Style5[ImagesOnly]
Style6
Tagged with: Mualaf
About Adam Pramuja
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
- Popular Post
- Video
- Category
Popular Posts
-
Kisah ini adalah kisah hidupku yang menyedihkan, sampai sekarang Aku masih sering meratapi nasibku, bersungut-sungut dengan kesialan yang ...
-
Roy Jeconiah John Paul Ivan JAKARTA, Setelah kira-kira dua tahun tak lagi menjadi vokalis band rock Boomerang, Roy Jeconiah membentuk RI...
-
Namanya Lia Rojas. Wanita asal Dallas, Texas ini memeluk Katolik sejak kecil. Satu setengah tahun lalu ia adalah calon guru agama Katolik...
-
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelil...
-
Satu kajian dari Dr. Tariq Al Suwaidan dan terbitan bukunya “the series of the scientific miracles in qur’an” memperlihatkan kepada ki...
Video Of Day
Labels
- Afrika (1)
- Ahmadiyah (4)
- Alam (1)
- All About Life and Love (2)
- Amerika (18)
- Answering Muslim (1)
- Artikel Islam (127)
- Asia News (8)
- Atheis (3)
- berita (33)
- berita muslim (101)
- Berita Photo (9)
- Biologi (2)
- Debat Islam Dan JIL (3)
- DIK (1)
- Download (6)
- Dunia Militer (1)
- Ekonomi (5)
- Entertainment (4)
- Europe News (10)
- Game (1)
- Gaya Hidup (26)
- Hadits (3)
- Hukum (1)
- Indonesia (4)
- Inet (1)
- INFO DARI KAMI (2)
- Info Dumay (2)
- Iptek (41)
- Islam (55)
- Islam Afrika (2)
- Islam Amerika (16)
- Islam Asia (25)
- Islam Australia (1)
- Islam Dan Sains (41)
- Islam Eropah (23)
- Islam Nasional (1)
- Islam Nusantara (9)
- Islam Timur Tengah (28)
- Israel (1)
- Istri Rasulallah (1)
- JIL (7)
- Kesehatan (37)
- kisah Rohani (4)
- Kriminal (24)
- Kristen (142)
- Misteri (27)
- Mualaf (261)
- Mujahidin (21)
- Musik (6)
- Muslimah (8)
- Nasional (39)
- Ormas (1)
- Palestina (6)
- PBB (3)
- Pendidikan (3)
- Polhukam (12)
- Potret (7)
- renungan (2)
- Romance (1)
- Sahabat Rasul (9)
- Sastrawan Indonesia (1)
- sejarah (26)
- Sejarah Islam (2)
- Sensosbud (12)
- sitemap (1)
- Sport (17)
- Syi'ah (3)
- Tafsir (3)
- Tantangan Muslim (5)
- Timur Tengah (32)
- Tokoh Islam Dunia (15)
- Tokoh Islam Indonesia (3)
- Tokoh Muslim (14)
- Tokoh Nasional (10)
- Trinitas (18)
- Unik (22)
- video (8)
- Wawancara (1)
- Yahudi (14)
Tidak ada komentar: